untuk dia yang meninggalkan ku diujung malam
di depan lampu pijar menanti kabar
sayup - sayup lagu meremang sunyi
***
dua menit sepuluh detik
bibirku kembali kering
jemari menari berdentang dimeja
berhambur kunang di sela kegelapan
apa gerangan peluh menggebu asa?
mencari jejak tak bertuan
matamu mengatup lelah
kaku badan terduduk disepanjang jalan
sedang kisah meluap ingan kau dengarkan
alam yang mengajakmu bercerita
tentang mimpi bunga mawar
di sisa malam habiskan cerita
tak berbekas di ujung bibir cangkir
sepenggal nada pengantar tidur
meski masih ku nanti
kau meninggalkan titik jemu
selamat malam, nampak rautmu kian rapuh
"Wanita; kodratnya menunggu. Dalam diamnya menyulam kata, doanya menjelma kunang dalam remang malam dan ketahuilah, tak akan berhenti lupanya mengenangmu. Meski perih, coretan tentangmu takkan menumui titik"
Jumat, 31 Januari 2014
Minggu, 22 Desember 2013
tarian hujan
Aku butiran air dibibir daun
memetik larik dalam penantian pelangi
silih berganti gerimis jatuh mencumbu ranting
sesekali menetes di atas air keruh tlah jemu
rayuan awan mematikan rembulan
satu persatu warna mulai menari hitam putih
di antara sajak-sajak yang tak terbaca lagi
ku coba berdamai dengan hujan
ku biarkan angin membawa luka ku
biarkan rintik ini yang berkisah padaku
maka tak usah bila kita
menarik benang merah pada kata rindu
katakan saja pada gerimis yang selalu ingin
diajak berbicara, saat kita tak lagi sama menulis
cerita
kini nyanyian ku tlah menyatu dengan tanah
di iringi derai hujan yang ikut berdendang
Apakah aku hujan? Atau sekadar embun di ujung malam?
Pelangi bisa tahu apa bentukku yang sejati.
Dan aku bahagia, karena bisa meremah hujan saat jemari
berjauhan
hujan
malam ini begitu tenangnya,
bahkan
aku tak bisa mengeja bahasanya,
rintik
nya serupa penantianku,
sedangkan
gemericiknya seirima dengan syair ku,
wahai malam yang menua,
wahai malam yang menua,
haruskah
aku sampai padanya dengan tergesa-gesa?
jangan
berlalu, tinggalah dan lanjut berlagu
sebab
tarian kita sedang bertalu
aku
mulai piawai menari bersama hujan malam itu.
Rabu, 18 Desember 2013
sebab aku
pernah kau menemuiku
saat malam menyelip di sela jendela
dari balik kerudung yang tertiup angin
ku coba menerka ranum senyummu
kini sungguh rupa mu tak maya lagi bagi ku
di depan serambih rumah
tanpa nada suara menyapa
deguk jantung malah berirama
cerita kita mulai bisikkan
romansa indah bertebaran dilangit malam kala itu
ku coba melukis paras mu
di atas daun yang mulai mengatup
sebab ku tahu,
waktu akan mengurung mu kembali dalam jaraknya
hanya sisakan wangi dan jejakmu
yang juga akan terhapus angin
biarkan saja ku jadi kan penenang
saat rinduku mulai meradang
cerita itu berubah alur
setelah waktu tak pernah menyudutkan kita lagi
kini hari ku getir, berujung pasi nun hambar
sehingga kisah kita berkasus mati rasa
menanti jumpa dayung bersambut
namun hanya rasa yang kian berkerut
hanya bisa memanggku senja dalam pelukan malam
aku berlalu melihat kerlingan itu
tapi kau masih begitu
sebab aku telah menelan kisah itu sendiri.
Sabtu, 14 Desember 2013
masih ada
menitik jeda pada kisah sepenggal
indah cerita sudah buyar tersapu hujan
tinggal ini yang masih basah
sebaris rasa di atas kertas terbakar
bisa ku dengar patah pena yang menjerit
sedang jemari yang meringkik pahit
berhambur serpihnya menyentuh tanah
buta arah sudah pena kesayangan
tinggal kertas yang telah lota
dengan aksara berteteskan darah
di sepertiga malam,
kisah itu pupus terhunus oleh waktu
serpihan yang terkubur membisu
termakan sendu dan rindu
yang selalu menunggu cerita kembali beralur
hanya pena buta dan secarik kipa yang tertinggal
tinta menghitam dan aksara terbelah
di tepi dergama mungkin ia terjatuh
entah kemana lagi serpihnya berlabuh
hanya jejak yang membekas
mulai samar
mulai samar
Kamis, 12 Desember 2013
bak pemulung
ini susah
meremah sisi-sisa yang tlah berpuing, lagi
kembali memikul asa di balik dada
meniti remang pagi susuri hari
sejumput embun mulai terangkat
jadi satu hingga terikat
sepertinya hari akan kembali penat
tatap sinis merambah di tiap sekat
bagai angin yang lupa jalan ke hulu
tubuh lusuh menari di atas tanah api
jemari pasrah memungut reja
sesekali menseruit kan desah
hari masih saja ada
dengan bahu yang nyaris mencumbu tanah
mentari menyeringai
enggan berganti, tertutup awan apa lagi
setelah embun, sisa lain tersentuh
ini sungguh susah.
memungut kembali retakan yang tlah menjadi debu
menyulamnya menjadi satu labirin utuh
lalu memamerkan di atas etase berhias manik merah
ahh. ikut retak mungkin akan lebih mudah dan biar jadi sisa
meremah sisi-sisa yang tlah berpuing, lagi
kembali memikul asa di balik dada
meniti remang pagi susuri hari
sejumput embun mulai terangkat
jadi satu hingga terikat
sepertinya hari akan kembali penat
tatap sinis merambah di tiap sekat
bagai angin yang lupa jalan ke hulu
tubuh lusuh menari di atas tanah api
jemari pasrah memungut reja
sesekali menseruit kan desah
hari masih saja ada
dengan bahu yang nyaris mencumbu tanah
mentari menyeringai
enggan berganti, tertutup awan apa lagi
setelah embun, sisa lain tersentuh
ini sungguh susah.
memungut kembali retakan yang tlah menjadi debu
menyulamnya menjadi satu labirin utuh
lalu memamerkan di atas etase berhias manik merah
ahh. ikut retak mungkin akan lebih mudah dan biar jadi sisa
Rabu, 11 Desember 2013
11.12.13~tak ada
sudah pukul berapa?
pada suara yang bergeligi keheningan
masih adakah yang akan berdecak, atau menabur alibi?
sedang elegi masa telah berlalu di sudut sana
yang bersua dalam rinai hujan pun kian lusuh di genang zaman
sudah tiba kah dirinya?
sosok yang senang kau nanti di ujung senja
saat menyepi malam kau impikan
yang piawai mensyairkan aksara dalam gesek biola kematian
di depan beranda rumah,
kau paku tubuh mematung dan mata yang menelangsa jauh
seakan menggerogoti jejak di atas pasir pantai yang damai
lalu apa sekarang?
sudah lelah kah dirimu menyeruit bayang dua tiga
namun sebiji tetap samar
hari akan selalu sama,
hanya tudung pelangi kan jadi pembeda
setelah hujan reda
maka tak patut jika
kau tarik ulur lingkar waktu di tanganmu itu.
sebab ia jua kan segera berlalu,
walau hanya di sekitar peredaran darahmu
seperti diri mu, yang menanti keajaiban di sisa malam biasa
yang mereka eluh-eluhkan laksana kuncup mawar di akhir tahun
tenang saja! hari ini pun akan menjadi bagian dari kisah biasa.
pada suara yang bergeligi keheningan
masih adakah yang akan berdecak, atau menabur alibi?
sedang elegi masa telah berlalu di sudut sana
yang bersua dalam rinai hujan pun kian lusuh di genang zaman
sudah tiba kah dirinya?
sosok yang senang kau nanti di ujung senja
saat menyepi malam kau impikan
yang piawai mensyairkan aksara dalam gesek biola kematian
di depan beranda rumah,
kau paku tubuh mematung dan mata yang menelangsa jauh
seakan menggerogoti jejak di atas pasir pantai yang damai
lalu apa sekarang?
sudah lelah kah dirimu menyeruit bayang dua tiga
namun sebiji tetap samar
hari akan selalu sama,
hanya tudung pelangi kan jadi pembeda
setelah hujan reda
maka tak patut jika
kau tarik ulur lingkar waktu di tanganmu itu.
sebab ia jua kan segera berlalu,
walau hanya di sekitar peredaran darahmu
seperti diri mu, yang menanti keajaiban di sisa malam biasa
yang mereka eluh-eluhkan laksana kuncup mawar di akhir tahun
tenang saja! hari ini pun akan menjadi bagian dari kisah biasa.
Selasa, 19 November 2013
mulai bosan
sering ku terbangun dari kekakuan
berlari dari kepalsuan sisi lain kehidupan
bagai bergurat lama dalam kuburan
meneguk jerit disela kepicisan
aku dan bayangan ini
masih serupa dengan kemarin
berbalut kain dua warna, tudung kepala hingga dada
sedang kaki mengukir jarak sambil menciumi kerikil masih sama
mata yang mencumbu debu, bahu yang memikul ilmu
pena yang mulai tumpul dan kertas seakan tlah dungu
dan raga yang selalu menunggu kereta untuk berlabu
belum berakhir, Hingga kecup Hening malam kembali berlagu
sementara jemu mulai memangsa asa
memaksa ingin untuk segera berkelana
mengusik kepenatan di sela ketenangan
resah menjamah jiwa liar tak terarah
jika bisa menelangsa berwindu sudah terpenjara
bergerilya dalam masa yang bertahta sejarah
hingga jengah ku tak pelak awal prahara
lalu kapan kebebasan menerpa dan jiwa muda berjaya?
kini aku muak serasa ingin muntah saja
jika hanya terbangun dan berbusana dua warna yang sama
Langganan:
Postingan (Atom)






