sepak pedati berpacu
menanti palu menghakimi
jiwa berdebar menanti, kemana kepakan menaungi?
-....-
denting violin meremangi ruang
sayup larik berdesir di sepotong jendela
berpangku lesuh raut di kibas angin
apa gerangan tak serintik hujan menyapa malam?
sedang titian senja berlenggak ayu
menciduk jingga di temaram hari
kemanakah mereka?, bergegas hingga berlari
sisakan tanya pada kelopak mawar berbui sendu
adakah iming berbalut misteri,
hingga kerling kecut mampu tenangkan diri
maka terpasunglah makna, tersirat dalam hati
tentang nada sumbang yang tetap bersimponi
dan cakrawala molek yang setia menutup hari
serta terka mendidih di atas kasa pati
nantikan ku di gerbang abadi
sehabis berkoar nuri pemakan sesaji
setiba kabar kegap gembita itu
nasib tinggallah sepotong alasan mati
Tidak ada komentar:
Posting Komentar