Menyeka buih pada lembar berkristal
Kuncup raip di pedar senja
Nampak ingin berlalu, segera
....
Raut pena seruitkan kata
Cukuplah nirwana jadi penanda
Tuliskan puisi setampan lukisan cinta pertama, Mari
Ialah sisa makna di ujung jalan
Ku pungut dan baluti deret aksara
Kelak tuan, pada genggaman ini
Akan lahir symfoni kasihku
Setitik kalimat cinta dalam do’a, aminkanlah
Jika pengembaraanku tlah sirna
Maka berganti lembanyung pelangi
Saat sukma terpaut pesona di sudut netra
Kau
senja yang lain,
Bias cahaya matamu ialah cinta
Yang kau lukis
berwarna jingga.
Aku masih kuncup,
Sebagai bunga melambai dari jauh.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar