Kamis, 27 Maret 2014

titik kalimat cinta

Menyeka buih pada lembar berkristal 
Kuncup raip di pedar senja
Nampak ingin berlalu, segera
....
Raut pena seruitkan kata

Cukuplah nirwana jadi penanda
Tuliskan puisi setampan lukisan cinta pertama, Mari


Ialah sisa makna di ujung jalan
Ku pungut dan baluti deret aksara
Kelak tuan, pada genggaman ini
Akan lahir symfoni kasihku
Setitik kalimat cinta dalam do’a, aminkanlah

Jika pengembaraanku tlah sirna
Maka berganti lembanyung pelangi
Saat sukma terpaut pesona di sudut netra

Kau senja yang lain, 
Bias cahaya matamu ialah cinta 
Yang kau lukis berwarna jingga. 
Aku masih kuncup, 
Sebagai bunga melambai dari jauh.

Tidak ada komentar: